Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juni 2014

Mengapa Ada Orang yang Tak Bisa Berhenti Merokok?


AFP
Ilustrasi merokok
Banyak cara untuk berhenti merokok. Ada orang yang setelah diminta kekasihnya untuk meninggalkan kebiasaan buruknya langsung bisa berhenti. Ada yang setelah membaca artikel bahaya rokok lalu bertahap mengurangi rokoknya dan sukses. Tapi ada banyak orang yang tak bisa berhenti. 

Para ilmuwan kini semakin memahami mengapa ada sebagian orang yang tidak bisa berhenti merokok. Hal itu ternyata tak bukan karena kurangnya niat, tapi berkaitan dengan aktivitas di otak. 

Kesimpulan itu didapat setelah para peneliti mengamati aktivitas otak pada perokok yang dilarang merokok menggunakan pemindaian MRI.

Ada 44 perokok yang dipindai otaknya. Mereka berusia 18-45 tahun dan merokok rata-rata 10 batang setiap hari dalam 12 bulan terakhir. Para partisipan ini diminta untuk puasa rokok selama 12 jam sebelum pemindaian.

Para peneliti memindai otak mereka untuk melihat responnya pada tawaran uang jika mereka mau berhenti merokok. 

Mereka menemukan bahwa yang memperlihatkan respon paling lemah pada bagian otak yang mengatur ganjaran adalah yang paling tidak mau berhenti merokok, bahkan jika ditawarkan hadiah uang. Rasa kenikmatan yang dihasilkan dari nikotin ternyata lebih kuat dibanding tawaran uang.

Nikotin memang bisa menjerat pemakainya. Kecanduan nikotin juga lebih sulit dihilangkan dibandingkan dengan heroin atau kokain. Begitu Anda menghirup rokok, dalam waktu 10 detik nikotin sudah memasuki otak. Di otak nikotin akan meningkatkan produksi neurotransmiter dopamin, yaitu zat yang mengatur gerakan, motivasi, emosi, serta kenikmatan. 

Sayangnya, efek nikotin cepat menghilang secepat ia menyerang. Ini berarti Anda harus terus mengisap lebih banyak untuk mendapatkan rasa nikmatnya. Nikotin juga mudah menimbulkan rasa ketergantungan yang kuat.  (sumber: kompas.com)
Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna

Selasa, 03 Juni 2014

Alasan Mengapa Lebih Gampang Stres daripada Bahagia

STRESS.... BAHAGIA.....


Rasanya memang tidak ada orang yang bebas dari stres. Masalah dalam kehidupan sehari-hari, seperti beban pekerjaan, situasi keuangan, dan juga konlik dengan pasangan, bisa membuat kita selalu merasa tegang dan cemas. 

Ada banyak alasan mengapa kita sulit bersikap tenang ketika menghadapi masalah-masalah tersebut. Tetapi menurut Jan Bruce, CEO meQuilibrium, sistem coaching digital untuk stres, paling tidak ada 3 alasan mengapa manusia modern lebih gampang merasakan emosi stres ketimbang bahagia.

1. Merasa membuang waktu
Mengapa perlu keluar kantor dan berpanas-panasan jika Anda bisa makan di meja sambil menyelesaikan pekerjaan? Mengapa harus berjalan kaki dan menghabiskan waktu 10 menit ketika kita bisa naik kendaraan dan pulang lebih cepat untuk bersantai? 

Memang ironis tapi itu fakta: kita merasa bisa menghemat waktu dengan memberikan pada diri kita waktu yang sedikit. Tetapi cara kerjanya bukan seperti itu. Waktu tidak selalu uang dan kita tidak bisa menyimpannya dalam toples. Anda harus menghabiskannya saat memilikinya. Kuncinya adalah menghabiskan waktu dengan bijaksana. Belum tentu Anda bisa punya kesempatan untuk menikmati waktu tersebut.

2. Fokus pada masa depan
Mayoritas kita menghabiskan waktu kita untuk memikirkan apa yang terjadi di masa depan, entah itu akan terjadi besok atau mungkin terjadi minggu depan. Tetapi jika kita kehilangan momen saat ini, sebenarnya kita sudah kehilangan banyak hal. Kita tak bisa tenang, gembira, dan tidak bisa menikmati jika kita tak sungguh-sungguh ada untuk saat ini. 

Pada derajat tertentu, insting bertahan hidup manusia akan selalu membuat kita terlatih demi masa depan. Ini memang cara kita hidup. Tetapi mereka yang lebih tahan, fleksibel, dan lebih bahagia, adalah mereka yang menghargai momen saat ini. 

3. Membela diri
Karena banyaknya tuntutan atas waktu, perhatian, dan sumber daya kita, seringkali kita merasa takut untuk membuat "pintu otak" kita agar tidak dibanjiri stres tambahan. Padahal terkadang kita perlu membuka diri sedikit untuk hal yang berbeda dan melepaskan ketegangan.

Ini berarti kita bisa menjalani hari-hari dan juga akhir pekan dengan melakukan sesuatu dari yang rutin kita lakukan. Cari kesempatan untuk menghubungi teman, atau membaca buku yang bisa membuat Anda masuk ke dunia cerita. Atau berbaring di rumput dan memandangi langit tanpa perlu berpikir apa pun. 

Rasa takjub, tenang, dan gembira, bukanlah sesuatu yang kita rencanakan untuk nanti. Kita harus berusaha meluangkan waktu untuk merasakannya saat ini.
Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna

Senin, 02 Juni 2014

Orang Perfeksionis Gampang Stres

Orang Perfeksionis Gampang Stres


Orang perfeksionis selalu memiliki target tinggi dalam bekerja. Dia berambisi meraih nilai tinggi. Kalau ia mendapat penilaian buruk, dunia seakan kiamat. Gara-gara itu, orang perfeksionis sangat mudah terserang stres.

Selain itu, penelitian menunjukkan, orang perfeksionis mudah mengalami rasa cemas, gangguan makan, dan sindrom kelelahan kronis. Temuan ini diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh Brook University di Ontario, Amerika Serikat.

Para peneliti meneliti hubungan antara orang yang memiliki sifat perfeksionis dan kesehatan fisiknya. Penelitian ini melibatkan 492 laki-laki dan perempuan berusia 24-35 tahun sebagai responden. Mereka bersifat perfeksionis dan punya keluhan masalah kesehatan antara lain sakit perut, sesak napas, tidur yang tidak berkualitas, dan merasa lelah.

Seorang perfeksionis juga punya kecenderungan takut gagal, sehingga mereka sering menunda pekerjaan sampai mendapat hasil yang terbaik.

Sifat perfeksionis memang tidak selalu baik bila seseorang gagal mencapai target terlalu tinggi, kemudian menyalahkan diri sendiri. Sifat perfeksionis juga bisa menjadi buruk bila seseorang terobsesi melakukan sesuatu dengan sangat baik dan tidak ingin ada orang lain yang bisa menandingi. Perfeksionis bagaikan pedang bermata dua.

Perfeksionis adalah sifat yang stabil. Dengan demikian, sulit untuk diubah. Namun, para peneliti mengatakan, kalau orang perfeksionis gagal, semestinya mereka bisa memotivasi diri sendiri untuk bangkit. Ini adalah usaha untuk tetap hidup sehat bagi seorang perfeksionis.
Kompas.com


Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna

5 Tanda Anda Butuh Jeda dari Pekerjaan





5 Tanda Anda Butuh Jeda dari Pekerjaan




Setiap orang pernah merasakan kegagalan dalam pekerjaan. Merasa terlalu banyak bekerja, tidak melakukan banyak hal dengan baik, kehilangan kepercayaan diri, bahkan berpikir untuk mencari sebuah pekerjaan baru. 

Namun tahukah Anda, setiap masalah tersebut bisa diselesaikan dengan satu hal sederhana, seperti mengambil jeda atau libur untuk bersantai sejenak?

Masalahnya, tak sedikit orang yang tak tahu kapan waktu yang tepat bagi mereka untuk mengambil jeda. Berikut adalah lima tanda untuk mengenalinya.  

1. Anda seharusnya mencintai pekerjaan Anda, namun sekarang, Anda membencinya.
Apakah Anda merasa cemas ketika harus bangun dan kembali bekerja setiap harinya? Apakah sebelumnya hal ini adalah sesuatu yang menyenangkan bagi Anda?
Mayoritas dari kita memang menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja, jadi jika Anda lantas merasa tidak bahagia, maka jangan ragu untuk mengambil "jeda" untuk mengatasinya.

2. Atasan sering menegur Anda
Apakah atasan sering menegur dan menyarankan untuk memperbaiki pekerjaan Anda? Jika ya, dan Anda tetap tidak menunjukkan adanya perbaikan yang berarti, inilah saatnya untuk menilai apakah Anda memang benar-benar cocok untuk bekerja di bidang tersebut.

Mengambil jeda sejenak untuk beristirahat dan berpikir adalah langkah tepat, di samping memikirkan keputusan untuk pindah dan mencari pekerjaan yang sesuai. 

3. Anda merasa telah kehilangan momentum penting
Apakah orang terkasih Anda, teman, atau anggota keluarga pernah berbicara tentang kecanduan Anda terhadap pekerjaan? Apakah Anda merasa telah kehilangan momentum penting karena Anda terlalu sibuk bekerja?

Mungkin inilah tanda, sudah saatnya Anda untuk pergi dan mengambil jeda untuk melihat apakah apa yang sedang Anda kerjakan ini benar-benar "berharga" seperti yang Anda pikirkan.  
4. Anda sedang mengalami sebuah peristiwa atau perubahan besar dalam hidup 
Perceraian, kehilangan orang terkasih, perpindahan, kelahiran anak, apa pun yang mengganggu rutinitas normal Anda, menawarkan kesempatan untuk mempertimbangkan lagi bagaimana seharusnya memanfaatkan waktu Anda sebaik mungkin.   

5. Anda stres dan tidak sehat
Apakah Anda mengalami insomnia, masalah kesehatan, atau bahkan depresi? Ini adalah sebuah tanda yang jelas bagi Anda untuk segera mengambil "jeda". Jika hal yang merugikan mempengaruhi kesehatan Anda, maka saatnya mengatasi masalah sedari dini, sebelum semakin serius. 

Memang, memberikan kesempatan pada hal baru, seperti merencanakan perjalanan besar, mengubah karier, atau memulai sebuah proyek baru kerap membuat Anda bimbang dan sulit lepas dari zona aman. Namun, Anda harus ingat, jika hidup ini pendek dan sebentar, mengapa harus memperjuangkan sesuatu yang membuat Anda tidak bahagia, demi masa depan yang Anda pikir "sudah aman"?

Mengambil jeda untuk liburan dan beristirahat memungkinkan Anda hidup untuk saat ini dan membuat pilihan yang lebih baik. Selain itu, Anda juga memiliki ruang dan waktu untuk mempertimbangkan dengan benar segala alternatif dan keluar dari segala hal yang membuat Anda tak bahagia

kompas.com

Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | hospedagem ilimitada gratis